Sebagaimana testimoni para terapis, bahwa membaca buku (terutama novel) tidak hanya membantu mengurangi emosi negatif dan mendorong emosi positif, tetapi juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kebesaran hati.

Biblioterapi atau terapi membaca muncul untuk pertama kalinya setelah Perang Dunia II. Saat itu kesehatan mental dari generasi baby boomer menjadi perhatian utama. Ketika pendidikan dan ruang kelas menjadi hal yang semakin penting, membaca mulai dikaitkan dengan perkembangan kepribadian anak. Pada tahun 1948, David H. Russell mengamati bahwa guru-guru saat itu lebih sering bertanya pada diri mereka sendiri tentang ‘What is reading doing to Johnny?’” dari pada ‘What is Johnny doing in reading?’

Sebelum era itu, sedikit atau bahkan tidak ada praktisi pendidikan atau psikologi yang memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana membaca mempengaruhi pikiran anak-anak. Namun, penelitian mulai menunjukkan bahwa membaca memiliki efek psikologis dan emosional yang positif pada anak-anak. Penelitian tahun 1948 yang dipimpin oleh Nila Banton Smith menemukan bahwa membaca dapat membentuk sikap dan perilaku, serta meningkatkan sifat-sifat seperti empati, toleransi, dan rasa syukur.

Menariknya, efek positif ini tidak tergantung pada jenis bacaan. Baik bahan bacaan ringan seperti komik, cerita detektif, dan teenlit, maupun bahan bacaan berat seperti textbook, keduanya berdampak baik pada pembaca. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa membaca dapat meningkatkan pemahaman antarbudaya, yang menjadi tujuan utama setelah Perang Dunia II.

Membaca sebagai sebuah terapi mulai menyebar di seluruh Amerika pada tahun 1950-an. Banyak orang mulai bertanya tentang bagaimana membaca dapat membantu orang-orang untuk menghadapi masalah di era yang penuh kecemasan ini, serta bagaimana membaca dapat membantu dalam mengembangkan penyesuaian diri yang menjadi ciri kepribadian yang sehat. Meskipun penelitian tentang terapi membaca pada saat itu masih belum banyak, banyak guru mulai menggunakan membaca sebagai alat bantu untuk mengatasi kebutuhan emosional para siswa.

Beberapa dekade kemudian, Victor Nell (1988) menyampaikan pemikirannya tentang terapi membaca dalam bukunya berjudul “Lost in a Book: The Psychology of Reading for Pleasure”. Nell menyatakan bahwa membaca adalah pengalaman yang menggetarkan hati, penuh warna, dan memperindah hidup seperti hal-hal lain di dunia nyata. Menurutnya, membaca bukan hanya menyenangkan tetapi juga merupakan pengalaman universal, karena manusia memiliki dorongan dasar untuk menghasilkan maupun mengonsumsi narasi.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *